Kamis, 18 September 2014

** Working Mom Dalam Fikiran Saya**


Seringkali batin ini tersenyum, kadang meringis, jika kebetulan membaca cerita tentang dilema para ibu yang ribut soal pilihan akan menjadi ibu yang full time di rumah (ibu rumah tangga) kah atau ibu yang selain mengurus keluarga juga memiliki pekerjaan lain di luar rumah.

Hal ini cukup diperparah dan semakin tersorot kala di medsos pun seringkali terlihat beredar aneka editan foto yang berisi tulisan dengan nada2 sindiran sarkastik yang ditujukan kepada para ibu yang juga berkarier di luar rumah.

Seolah, ada dikotomi yang sengaja dibentuk untuk menciptakan kesan bahwa salah satu pihak pasti lebih baik daripada yang satunya, dan salah satu pihak pasti lebih buruk dari salah satunya pula.

Ya! Saat ini posisi saya memang sebagai seorang ibu yang juga menyambi pekerjaan tetap di luar rumah, yakni sebagai seorang pegawai ikatan dinas di sebuah kementerian. Saya sudah pernah tentunya melewati berbagai pergulatan batin, emosi, dan bahkan air mata akan pilihan yang saya ambil saat ini. Dengan hasil diskusi panjang serta dukungan penuh dari orang tua dan juga suami terkasih, saya pun menguat-nguatkan diri untuk go fight menjalaninya. Menjalani tugas dan panggilan negara yang telah menyediakan pendidikan (ikatan dinas) untuk saya. Mencoba mengamalkan ilmu yang saya dapat semasa kuliah, dengan juga mengerjakan tugas-tugas utama saya sebagai seorang ibu. Meski bukan tidak mungkin pilihan saya berubah di suatu masa nanti. Yes, ini tentang pilihan dan kesiapan dalam menghadapi segala konsekuensinya. 
Akan tetapi, tetap saja, the show must go on..

Sebenarnya, ketika kita berfikir ulang.. Tidak ada yang mesti diperdebatkan mengenai hal ini. Saya merasa tidak perlu mencari contoh jauh-jauh.. contoh terdekat bagi saya adalah ketika saya berkaca pada sosok ibu saya (Almarhumah).

Mengingat tentang Alm. ibu (baca: Ummi) saya, adalah mengingat tentang seorang wanita bersahaja, kuat, tegar, cerdas dan luar biasa dengan 9 orang anak. Nyaris hampir tanpa pembantu ataupun baby sitter.. (Sesekali pembantu paro waktu yang membantu urusan setrika-menyetrika). 
Mendengar cerita-cerita tentang perjuangannya membesarkan anak-anaknya selalu membuat hati berdecak kagum. Jarak antar anak yang rerata 3 tahunan (hanya saya dan kakak di atas saya yang beda jauh 10 tahunan) membuat pada masanya beliau harus ektra keras memperhatikan satu- satu kebutuhan setiap anaknya. Kebutuhan akan segala yang bersifat material, kebutuhan akan kedekatan fisik, kebutuhan akan pengembangan mental, sikap, dan juga agama.. Semua dilakukannya bersama Ayah (baca: Apak) saya tentunya.
Dan meski terlahir dalam sebuah keluarga besar seperti ini (saya anak ke-8), terpatri dalam ingatan saya bahwa saya merasa bahagia dengan mereka. Saya bangga memiliki orang tua seperti mereka..
Lalu, melihat keberhasilan ini apakah lantas ditafsirkan bahwa ibu saya seorang ibu rumah tangga full sepanjang hidupnya yang senantiasa stay di rumah full time?

47 tahun usia pernikahannya memberinya ruang, kesempatan, untuk melewati berbagai fase... Entah itu dalam fase di saat ekonomi keluarga di atas angin ataupun saat dalam fase kekurangan.. Entah dalam fase dikala sehat bugar ataupun dalam fase saat-saat beliau sakit menahun. Dan berbagi fase lain yang harus beliau jalani dengan kuat..

Beberapa fragmen saat ibu juga ikut bekerja keras di luar rumah saya ingat.. 
Dulu saat Ayah saya fokus usaha wirausaha dengan berniaga di pasar, ibu kerapkali membantu beliau di sana.. Ikut mengurus dagangan.. Yang kita tahu bahwa dunia dagang berdagang di pasar bukanlah dunia yang menurut kita nyaman bagi seorang perempuan..
Dulu saat Ayah saya usaha di bidang perkebunan/pertanian, ibu saya juga kerap kali ikut terjun ke kebun dari pagi sampai siang berpanas-panasan untuk menyabit, hingga merawat kebun tersebut meski sebenarnya sudah ada orang lain yang dipekerjakan oleh Ayah saya. 
Dulu saat Ayah saya panen, entah itu panen buah, panen cengkeh, ataun sayuran, ibu juga ikut terjun dalam prosesnya bahkan kadang sampai penyiapan untuk siap jual.
Dan berbagai fragmen lainnya yang tentu masih jauh lebih banyak yang belum saya tahu karena saya belum lahir.. (Kakak-kakak saya lebih hapal).

Semua dilakukan di tengah beliaupun memiliki masalah kesehatan yakni darah tinggi dan diabetes hingga akhirnya beliau harus full time istirahat di rumah di masa tuanya karena ujian berupa strouke yang menimpanya selama beberapa tahun dari saya awal masuk kuliah. Semua beliau lalui dengan ikhlas dan tabah dibalik sikap pendiamnya yg penuh ketenangan.. Hingga kini ketenangan 'abadi' telah merengkuhnya..

Tanpa ada istilah working mom ataupun stay at home mom.. 

Kisah ibu saya mengajarkan, bahwa pada dasarnya semua ibu adalah working mom, tak terkecuali.. Bahwa semua ibu adalah pejuang.. Bahwa semua ibu ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya dengan berbagai perjuangannya masing-masing..

Maka please, hentikanlah sikap nyinyir, sikap saling tuding bahkan bully satu sama lain atas nama perbedaan jalan juang antara para ibu.. Karena, sikap seperti itu menurut saya menandakan bahwa kita belum berbesar hati dan bersikap dewasa akan warna hidup yang dilalui.

Mengutip kata seseorang, bahwa setiap kita memiliki perjuangannya masing-masing, dengan caranya masing-masing.. Maka menangkanlah, "Win yours without 'nyinyir' to other"..

*Salam Super untuk seluruh ibu hebat di dunia^__^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar