Seringkali
batin ini tersenyum, kadang meringis, jika kebetulan membaca cerita
tentang dilema para ibu yang ribut soal pilihan akan menjadi ibu yang
full time di rumah (ibu rumah tangga) kah atau ibu yang selain mengurus
keluarga juga memiliki pekerjaan lain di luar rumah.
Hal ini cukup diperparah dan semakin tersorot kala di medsos pun seringkali terlihat beredar
aneka editan foto yang berisi tulisan dengan nada2 sindiran sarkastik
yang ditujukan kepada para ibu yang juga berkarier di luar rumah.
Seolah,
ada dikotomi yang sengaja dibentuk untuk menciptakan kesan bahwa salah
satu pihak pasti lebih baik daripada yang satunya, dan salah satu pihak
pasti lebih buruk dari salah satunya pula.
Ya!
Saat ini posisi saya memang sebagai seorang ibu yang juga menyambi
pekerjaan tetap di luar rumah, yakni sebagai seorang pegawai ikatan
dinas di sebuah kementerian. Saya sudah pernah tentunya melewati
berbagai pergulatan batin, emosi, dan bahkan air mata akan pilihan yang
saya ambil saat ini. Dengan hasil diskusi panjang serta dukungan penuh
dari orang tua dan juga suami terkasih, saya pun menguat-nguatkan diri
untuk go fight menjalaninya. Menjalani tugas dan panggilan negara yang
telah menyediakan pendidikan (ikatan dinas) untuk saya. Mencoba
mengamalkan ilmu yang saya dapat semasa kuliah, dengan juga mengerjakan
tugas-tugas utama saya sebagai seorang ibu. Meski bukan tidak mungkin
pilihan saya berubah di suatu masa nanti. Yes, ini tentang pilihan dan
kesiapan dalam menghadapi segala konsekuensinya.
Akan tetapi, tetap saja, the show must go on..
Sebenarnya,
ketika kita berfikir ulang.. Tidak ada yang mesti diperdebatkan
mengenai hal ini. Saya merasa tidak perlu mencari contoh jauh-jauh..
contoh terdekat bagi saya adalah ketika saya berkaca pada sosok ibu saya
(Almarhumah).
Mengingat
tentang Alm. ibu (baca: Ummi) saya, adalah mengingat tentang seorang
wanita bersahaja, kuat, tegar, cerdas dan luar biasa dengan 9 orang
anak. Nyaris hampir tanpa pembantu ataupun baby sitter.. (Sesekali
pembantu paro waktu yang membantu urusan setrika-menyetrika).
Mendengar
cerita-cerita tentang perjuangannya membesarkan anak-anaknya selalu
membuat hati berdecak kagum. Jarak antar anak yang rerata 3 tahunan
(hanya saya dan kakak di atas saya yang beda jauh 10 tahunan) membuat
pada masanya beliau harus ektra keras memperhatikan satu- satu kebutuhan
setiap anaknya. Kebutuhan akan segala yang bersifat material, kebutuhan
akan kedekatan fisik, kebutuhan akan pengembangan mental, sikap, dan
juga agama.. Semua dilakukannya bersama Ayah (baca: Apak) saya tentunya.
Dan
meski terlahir dalam sebuah keluarga besar seperti ini (saya anak
ke-8), terpatri dalam ingatan saya bahwa saya merasa bahagia dengan
mereka. Saya bangga memiliki orang tua seperti mereka..
Lalu,
melihat keberhasilan ini apakah lantas ditafsirkan bahwa ibu saya
seorang ibu rumah tangga full sepanjang hidupnya yang senantiasa stay di
rumah full time?
47
tahun usia pernikahannya memberinya ruang, kesempatan, untuk melewati
berbagai fase... Entah itu dalam fase di saat ekonomi keluarga di atas
angin ataupun saat dalam fase kekurangan.. Entah dalam fase dikala sehat
bugar ataupun dalam fase saat-saat beliau sakit menahun. Dan berbagi
fase lain yang harus beliau jalani dengan kuat..
Beberapa fragmen saat ibu juga ikut bekerja keras di luar rumah saya ingat..
Dulu
saat Ayah saya fokus usaha wirausaha dengan berniaga di pasar, ibu
kerapkali membantu beliau di sana.. Ikut mengurus dagangan.. Yang kita
tahu bahwa dunia dagang berdagang di pasar bukanlah dunia yang menurut
kita nyaman bagi seorang perempuan..
Dulu
saat Ayah saya usaha di bidang perkebunan/pertanian, ibu saya juga
kerap kali ikut terjun ke kebun dari pagi sampai siang berpanas-panasan
untuk menyabit, hingga merawat kebun tersebut meski sebenarnya sudah ada
orang lain yang dipekerjakan oleh Ayah saya.
Dulu
saat Ayah saya panen, entah itu panen buah, panen cengkeh, ataun
sayuran, ibu juga ikut terjun dalam prosesnya bahkan kadang sampai
penyiapan untuk siap jual.
Dan
berbagai fragmen lainnya yang tentu masih jauh lebih banyak yang belum
saya tahu karena saya belum lahir.. (Kakak-kakak saya lebih hapal).
Semua
dilakukan di tengah beliaupun memiliki masalah kesehatan yakni darah
tinggi dan diabetes hingga akhirnya beliau harus full time istirahat di
rumah di masa tuanya karena ujian berupa strouke yang menimpanya selama
beberapa tahun dari saya awal masuk kuliah. Semua beliau lalui dengan
ikhlas dan tabah dibalik sikap pendiamnya yg penuh ketenangan.. Hingga
kini ketenangan 'abadi' telah merengkuhnya..
Tanpa ada istilah working mom ataupun stay at home mom..
Kisah
ibu saya mengajarkan, bahwa pada dasarnya semua ibu adalah working mom,
tak terkecuali.. Bahwa semua ibu adalah pejuang.. Bahwa semua ibu ingin
melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya dengan berbagai perjuangannya
masing-masing..
Maka
please, hentikanlah sikap nyinyir, sikap saling tuding bahkan bully
satu sama lain atas nama perbedaan jalan juang antara para ibu.. Karena,
sikap seperti itu menurut saya menandakan bahwa kita belum berbesar
hati dan bersikap dewasa akan warna hidup yang dilalui.
Mengutip
kata seseorang, bahwa setiap kita memiliki perjuangannya masing-masing,
dengan caranya masing-masing.. Maka menangkanlah, "Win yours without
'nyinyir' to other"..
*Salam Super untuk seluruh ibu hebat di dunia^__^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar