"Pecawaaattt....!!"
teriak si kecil histeris.
"Nguing...zuuummmmm... zuummmmm...
Yeayyy terbaang...!!" sahut saya.
Dan si kecil pun
tertawa-tawa lepas kegirangan.
Begitulah cuplikan
edisi waktu bermain untuknya hari ini.
Ceritanya, Meru (21
bulan) akhir-akhir ini sedang senang-senangnya dengan segala macam yang berbau
pesawat. Jadilah di setiap ada kesempatan bermain bersama, ada saja
imajinasinya yang berhubungan dengan pesawat. Entah itu "menggambar"
pesawat,, "menaiki" pesawat,, antusias setiap kali melihat pesawat
sungguhan, mainan, ataupun gambarnya,, dan lain-lain..
Hingga tadi malam,
saya pun berubah sejenak menjadi "pesawat terbang" untuknya.
Dengan sedikit
mengerahkan tenaga.. Dan swuuuungggg!! Si kecil pun saya terbangkan (dengan
cara diangkat melintang, ala superman) keliling dalam rumah. Hehe..
Selain bermain
pesawat, waktu-waktu berharga pagi sampai malam hari pun kami upayakan isi
bersama dengan berbagai kegiatan seru yang saya usahakan semaksimal mungkin
penuh manfaat untuk tumbuh kembangnya..
Mulai dari rutin
membacakan surat-surat pendek untuknya terkait program belajar hapalan meski
dia baru bisa mendengarkan saja..
Membiasakan
mengajaknya membaca doa setiap akan melakukan aktivitas meski dia baru
mengikuti terpatah-terpatah dan mengaminkannya..
Mengajaknya sholat
bersama, meski dia baru meniru seadanya (sikap berdiri dan sujud)..
Membacakan cerita
untuknya.. Entah itu kisah tentang Rasulullah, atau sahabat, atau cerita
dongeng lainnya meski dia masih baru fokus mendengarkan dan heboh
menunjuk-nunjuk setiap gambar yang menarik di bukunya..
Memberikannya
kesempatan menggambar apa saja yang dia ingin gambar (biasanya yang pertama
digambar adalah "pecawat", ucap mulut mungilnya) meski secara kasat
mata di mata saya masih terlihat serba abstrak.. Hehe
Menari (lebih seperti
senam sih..) dan bernyanyi bersama dengan antusias diiringi berbagai lagu ceria
dan positif.. Meski gerakan si kecil masih suka-suka sendiri.. Emaknya
kemana,,anaknya kemana..hihi.. Efektif untuk membuat saya semangat berolahraga
dengan cara yang menyenangkan.. ^_^
Dan sebagainya..
Posisi saya yang
berstatus sebagai seorang ibu yang nyambi menjadi seorang pegawai di sebuah
instansi pemerintahan, LDR (Long Distance Relationship) dengan suami tercintah,
dan saat ini sedang memilih untuk TIDAK menggunakan jasa ART (Asisten Rumah
Tangga), tinggal lumayan jauh dari keluarga atau orang tua di Bogor (berjarak
sekitar 7-8 jam perjalanan dari mereka), membuat diri ini setiap hari harus
berusaha keras untuk belajar memenej segalanya sendiri. Termasuk bagaimana saya
berupaya mendidik anak saya.
Aktifitas rutin dari
pagi hingga malam hari seperti menyiapkan segala keperluan kantor dan
perlengkapan "perang" si kecil untuk selama dia bermain di daycare
saat jam kantor nanti, memasak bekal makanan seharian, menyiapkan cemilan,
merapihkan rumah, memandikan si kecil, mengantarkan si kecil ke daycare,
menjemputnya pulang ke rumah, bermain di rumah, belajar bersama, masak untuk
makan malam, bercerita, hingga dia terlelap tidur malam, dan lain-lain, terasa
begitu crowded.. cukup melelahkan.. menguji emosi dan mental.. Bahkan terkadang
air mata..
Namun.. Saya sadar,
bahwa semua rutinitas itu tak akan bermakna banyak, jika saya tidak
mengupayakan untuk mengisi setiap jenaknya dengan ruh..dengan jiwa.. Serta
dengan ilmu, cara, dan niat yang benar..
Bahwa misi menjadi
orang tua, adalah menjadi pengawal bagi terlahirnya para muharrik peradaban..
Membuat diri ini harus
banyak belajar bahwa semua aktifitas yang saya lakukan bersama seorang anak itu
adalah sesuatu yang harus memiliki nilai dan makna untuknya.. Untuk bekal
panjang kehidupannya..
Saya, seorang yang
masih jauh dari sempurna dan penuh dengan berbagai kekurangan, mau tidak mau
harus berusaha kuat untuk dapat menjadi sosok teladan baginya, "si peniru
ulung".. Meski diri ini pun terkadang masih terseok-seok dalam
menjalaninya.
Menjadi orang tua
adalah bagaimana menjadi seorang pembelajar..
Belajar kuat dihadapannya,
tidak cengeng.. Untuk mengajarkannya menjadi manusia yang kuat pula..
Belajar mengendalikan
kata-kata.. Untuk mengajarkannya bagaimana berkata yang baik dan benar..
Belajar mengendalikan
emosi.. Untuk mengajarkannya makna kesabaran..
Dan belajar akan
berbagai hal lainnya yang penting untuknya.. Untuk hidupnya..dan akhiratnya
tentunya..
Alhamdulillah, kondisi
ini terasa lebih ringan, terutama ketika saya sadar, bahwa saya tidak sendirian
mendidiknya..
Meski tidak setiap
hari saya dan suami bertemu (biasanya bertemu setiap weekend atau saat suami
free time), saya sadar betul, bahwa suami adalah seorang yang berpengaruh besar
dalam kehidupan saya.. Ya.. Karena dialah partner sejati saya dalam mendidik si
buah hati..
Entah dari jauh atau
pun dari dekat, dia tetap berusaha untuk menghadirkan sosoknya bersama saya dan
si kecil. Entah itu berbagi ilmu baru, mendengarkan ocehan dan curhatan saya,
mengajak si kecil bermain saat bersama, kerap berkomunikasi via berbagai media,
dan berbagai hal lainnya dalam upaya "membersamai" kami..
Namun, yang terpenting
dari itu semua adalah kesamaan misinya dengan saya, yang saya rasakan, dalam
bagaimana mendidik anak kami ini.
Kehadiran para ibu
hebat di luar sana juga turut andil dalam membuat saya "iri", Ya.. Perasaan
"iri" yang menumbuhkan motivasi dalam diri saya untuk ikut belajar
bersama mereka dari jauh. Belajar bagaimana cara mendidik diri ini menjadi
sosok seorang ibu yang lebih baik lagi..
Terimakasih ya.. :)
Dan saya pun
percaya..
Banyak sekali keajaiban
dan pelajaran yang akan kita rasakan saat kita menjadi orang tua..
Namun, di luar itu
semua..
Ada sebuah hal penting
yang saya catat.
Bahwa...
Pada akhirnya, menjadi
orang tua adalah tentang bagaimana kita belajar akan kehidupan itu
sendiri..
Tentang kemana arah
kita kan menuju..
"Maka ke manakah
kamu akan pergi?"
"Fa aina
tadzhabuun.." (QS. At-Takwir: 26)
Begitulah... :)
Laa haula walaa
quwwata illaa billaah..
****
Tasikmalaya, 16
September 2014
Malam, selepas si
kecil tertidur lelap
Sekedar berbagi,
semoga bermanfaat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar