Jumat, 19 September 2014

"Maafkan Daku, BeB..."

Berawal dari eksperimen si kecil yang terlalu "antusias" hingga akhirnya berkali-kali terbanting-banting.

Bukan hanya oleh si kecil.. Tapi saya sendiri pun memiliki andil besar dalam hal ini. Setiap saya lengah, ada saja adegan si BeB bercerai berai di rantai.. Entah itu "terpeleset" dari tangan hingga terlempar lah.. Atau terjatuh tanpa sengaja dari kantong, dll..

Maafkan daku ya BeB (singkatan dari BeBe).
Sudah 3 bulanan saya membiarkanmu mati..

Awalnya saya masih tenang-tenang saja, karena entah mengapa si BeB kuat sekali rupanya. Berkali-kali terjun bebas, masih saja setia menyala dan dapat saya pakai untuk menjalani bisnis online kecil-kecilan saya yang memang sangat mengandalkan bantuannya.

Namun, si BeB sepertinya sudah mulai tak kuat menjelang bulan Ramadhan kemarin. Tiba-tiba tanpa ada peringatan seringkali dia "pingsan", hingga berkali-kali harus saya hidupkan ulang dengan tak lupa melewati jam pasir nya yang khas dan cukup menguji kesabaran. Kemudian berlanjut pada daya baterai yang hanya kuat menyala untuk beberapa menit, sampai parahnya saat dipakai harus terus dalam keadaan di "infus" dengan listrik.

Saya dari dulu memang sangat pemalas dalam urusan servis-menyervis barang elektronik atau gadget yang rusak. Kondisi seperti ini dengan santainya saya biarkan, dan membuat saya memutuskan untuk libur jualan online selama Ramadhan.. (mumpung mempeung ceritanya).

Pinjaman Hp Nokiyem jadul dari suami pun memanjakan saya untuk mulai melupakan si BeB yang penuh jasanya. Sekedar bisa telepon dan sms-an saja sudah cukup nyaman buat saya.. Untuk urusan internetan, Mini Ipad yang saya "rampas" secara sukarela dari suami pun sudah lebih dari cukup.

Konsekuensinya? Negatifnya, saya gak bisa bebeeman dan whatsapan pastinya. Saya pun jadi vakum dari beberapa grup yang saya join di dalamnya.. Positifnya, entah mengapa kok saya merasa lebih happy ya? Gak ngerti deh, mungkin karena saya jenuh ya dari bunyi tang ting tong notif dari berbagai grup dan chat.. Rasanya saya bisa lebih banyak fokus untuk hal riil lain, mungkin lebih tepatnya rehat sih dari dunia bbm dan whatsapp itu..

Menjelang Lebaran, suami mendesak saya untuk memperbaiki si Beb. Akhirnya, saya pun tergerak hatinya untuk menyelamatkan si BeB. Dan ternyata, kerusakannya hanya di bagian connector daya nya saja..  Alhamdulillah pas Lebaran si Beb nyala dan berjasa membuat saya bisa mengucapkan selamat Lebaran dan permohonan maaf ke semua kontak saya yang tersimpan di sana.

Namun, belum sempat saya menerima balasan dari teman-teman, si BeB tanpa permisi mati lagi.
Huhuhu.. PhP banget deh..

Dan kali ini diganti baterenya pun tetap tak mau menyala..

Dan sekarang nambah lagi rajukan dari si hp nokiyem, layarnya mati tiba-tiba..

Semua  gadget jadi tidak terpakai.. (kecuali mini ipad, Alhamdulillah baik-baik sajaaa. Kalo rusak, mahal soalnya, garansi dah abis…T_T) Dan saya mulai menyadari, bahwa, saya telah zholim.
Zholim kepada hp-hp saya karena saya kurang merawatnya dengan baik..

Menyepelekan servisnya pula dengan menutupinya menggunakan alasan, tanpa gadget smartphone macam BeB, hidup saya baik-baik saja.

Padahal tanpa sadar saya telah memelihara sifat cuek, dan teledor.

Meskipun mereka bukan makhluk hidup, tapi bagaimana saya merawat mereka, akan menunjukkan pula bagaimana saya merawat yang lain..

Sementara saya kini sudah menjadi seorang ibu yang tentu dibawah tanggung jawab saya terdapat seorang anak manusia yang tak dapat dinilai dan digantikan dengan apapun dan tentunya tidak dapat saya servis seenak udel saat kondisinya tidak baik apalagi sampai membiarkannya “rusak”. Meskipun Alhamdulillah saya tidak memperlakukan anak saya seperti saya memperlakukan gadget saya tentunya. Namun, tetap saja, kebiasaan dan sikap teledor  terhadap barang-barang pribadi tersebut bukanlah kebiasaan yang boleh dipelihara.

Fiuhhh..

Terimakasih ya BeB dan Nokiyem ku tersayang..
You make me realize that everything that we have should be treated carefully in special way. No matter what it is.

Belajar…belajar…belajar..

NB: Toko online saya tetap vakum sementara waktu terlepas dari rusaknya si BeB. Lagi pengen fokus ngurusin si kecil. ^__^

Kamis, 18 September 2014

** Working Mom Dalam Fikiran Saya**


Seringkali batin ini tersenyum, kadang meringis, jika kebetulan membaca cerita tentang dilema para ibu yang ribut soal pilihan akan menjadi ibu yang full time di rumah (ibu rumah tangga) kah atau ibu yang selain mengurus keluarga juga memiliki pekerjaan lain di luar rumah.

Hal ini cukup diperparah dan semakin tersorot kala di medsos pun seringkali terlihat beredar aneka editan foto yang berisi tulisan dengan nada2 sindiran sarkastik yang ditujukan kepada para ibu yang juga berkarier di luar rumah.

Seolah, ada dikotomi yang sengaja dibentuk untuk menciptakan kesan bahwa salah satu pihak pasti lebih baik daripada yang satunya, dan salah satu pihak pasti lebih buruk dari salah satunya pula.

Ya! Saat ini posisi saya memang sebagai seorang ibu yang juga menyambi pekerjaan tetap di luar rumah, yakni sebagai seorang pegawai ikatan dinas di sebuah kementerian. Saya sudah pernah tentunya melewati berbagai pergulatan batin, emosi, dan bahkan air mata akan pilihan yang saya ambil saat ini. Dengan hasil diskusi panjang serta dukungan penuh dari orang tua dan juga suami terkasih, saya pun menguat-nguatkan diri untuk go fight menjalaninya. Menjalani tugas dan panggilan negara yang telah menyediakan pendidikan (ikatan dinas) untuk saya. Mencoba mengamalkan ilmu yang saya dapat semasa kuliah, dengan juga mengerjakan tugas-tugas utama saya sebagai seorang ibu. Meski bukan tidak mungkin pilihan saya berubah di suatu masa nanti. Yes, ini tentang pilihan dan kesiapan dalam menghadapi segala konsekuensinya. 
Akan tetapi, tetap saja, the show must go on..

Sebenarnya, ketika kita berfikir ulang.. Tidak ada yang mesti diperdebatkan mengenai hal ini. Saya merasa tidak perlu mencari contoh jauh-jauh.. contoh terdekat bagi saya adalah ketika saya berkaca pada sosok ibu saya (Almarhumah).

Mengingat tentang Alm. ibu (baca: Ummi) saya, adalah mengingat tentang seorang wanita bersahaja, kuat, tegar, cerdas dan luar biasa dengan 9 orang anak. Nyaris hampir tanpa pembantu ataupun baby sitter.. (Sesekali pembantu paro waktu yang membantu urusan setrika-menyetrika). 
Mendengar cerita-cerita tentang perjuangannya membesarkan anak-anaknya selalu membuat hati berdecak kagum. Jarak antar anak yang rerata 3 tahunan (hanya saya dan kakak di atas saya yang beda jauh 10 tahunan) membuat pada masanya beliau harus ektra keras memperhatikan satu- satu kebutuhan setiap anaknya. Kebutuhan akan segala yang bersifat material, kebutuhan akan kedekatan fisik, kebutuhan akan pengembangan mental, sikap, dan juga agama.. Semua dilakukannya bersama Ayah (baca: Apak) saya tentunya.
Dan meski terlahir dalam sebuah keluarga besar seperti ini (saya anak ke-8), terpatri dalam ingatan saya bahwa saya merasa bahagia dengan mereka. Saya bangga memiliki orang tua seperti mereka..
Lalu, melihat keberhasilan ini apakah lantas ditafsirkan bahwa ibu saya seorang ibu rumah tangga full sepanjang hidupnya yang senantiasa stay di rumah full time?

47 tahun usia pernikahannya memberinya ruang, kesempatan, untuk melewati berbagai fase... Entah itu dalam fase di saat ekonomi keluarga di atas angin ataupun saat dalam fase kekurangan.. Entah dalam fase dikala sehat bugar ataupun dalam fase saat-saat beliau sakit menahun. Dan berbagi fase lain yang harus beliau jalani dengan kuat..

Beberapa fragmen saat ibu juga ikut bekerja keras di luar rumah saya ingat.. 
Dulu saat Ayah saya fokus usaha wirausaha dengan berniaga di pasar, ibu kerapkali membantu beliau di sana.. Ikut mengurus dagangan.. Yang kita tahu bahwa dunia dagang berdagang di pasar bukanlah dunia yang menurut kita nyaman bagi seorang perempuan..
Dulu saat Ayah saya usaha di bidang perkebunan/pertanian, ibu saya juga kerap kali ikut terjun ke kebun dari pagi sampai siang berpanas-panasan untuk menyabit, hingga merawat kebun tersebut meski sebenarnya sudah ada orang lain yang dipekerjakan oleh Ayah saya. 
Dulu saat Ayah saya panen, entah itu panen buah, panen cengkeh, ataun sayuran, ibu juga ikut terjun dalam prosesnya bahkan kadang sampai penyiapan untuk siap jual.
Dan berbagai fragmen lainnya yang tentu masih jauh lebih banyak yang belum saya tahu karena saya belum lahir.. (Kakak-kakak saya lebih hapal).

Semua dilakukan di tengah beliaupun memiliki masalah kesehatan yakni darah tinggi dan diabetes hingga akhirnya beliau harus full time istirahat di rumah di masa tuanya karena ujian berupa strouke yang menimpanya selama beberapa tahun dari saya awal masuk kuliah. Semua beliau lalui dengan ikhlas dan tabah dibalik sikap pendiamnya yg penuh ketenangan.. Hingga kini ketenangan 'abadi' telah merengkuhnya..

Tanpa ada istilah working mom ataupun stay at home mom.. 

Kisah ibu saya mengajarkan, bahwa pada dasarnya semua ibu adalah working mom, tak terkecuali.. Bahwa semua ibu adalah pejuang.. Bahwa semua ibu ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya dengan berbagai perjuangannya masing-masing..

Maka please, hentikanlah sikap nyinyir, sikap saling tuding bahkan bully satu sama lain atas nama perbedaan jalan juang antara para ibu.. Karena, sikap seperti itu menurut saya menandakan bahwa kita belum berbesar hati dan bersikap dewasa akan warna hidup yang dilalui.

Mengutip kata seseorang, bahwa setiap kita memiliki perjuangannya masing-masing, dengan caranya masing-masing.. Maka menangkanlah, "Win yours without 'nyinyir' to other"..

*Salam Super untuk seluruh ibu hebat di dunia^__^

*Menjadi Orang Tua Adalah.......*

"Pecawaaattt....!!" teriak si kecil histeris.
"Nguing...zuuummmmm...zuummmmm... Yeayyy terbaang...!!" sahut saya.
Dan si kecil pun tertawa-tawa lepas kegirangan.

Begitulah cuplikan edisi waktu bermain untuknya hari ini. 
Ceritanya, Meru (21 bulan) akhir-akhir ini sedang senang-senangnya dengan segala macam yang berbau pesawat. Jadilah di setiap ada kesempatan bermain bersama, ada saja imajinasinya yang berhubungan dengan pesawat. Entah itu "menggambar" pesawat,, "menaiki" pesawat,, antusias setiap kali melihat pesawat sungguhan, mainan, ataupun gambarnya,, dan lain-lain.. 
Hingga tadi malam, saya pun berubah sejenak menjadi "pesawat terbang" untuknya. 
Dengan sedikit mengerahkan tenaga.. Dan swuuuungggg!! Si kecil pun saya terbangkan (dengan cara diangkat melintang, ala superman) keliling dalam rumah. Hehe..

Selain bermain pesawat, waktu-waktu berharga pagi sampai malam hari pun kami upayakan isi bersama dengan berbagai kegiatan seru yang saya usahakan semaksimal mungkin penuh manfaat untuk tumbuh kembangnya..

Mulai dari rutin membacakan surat-surat pendek untuknya terkait program belajar hapalan meski dia baru bisa mendengarkan saja..
Membiasakan mengajaknya membaca doa setiap akan melakukan aktivitas meski dia baru mengikuti terpatah-terpatah dan mengaminkannya..
Mengajaknya sholat bersama, meski dia baru meniru seadanya (sikap berdiri dan sujud)..
Membacakan cerita untuknya.. Entah itu kisah tentang Rasulullah, atau sahabat, atau cerita dongeng lainnya meski dia masih baru fokus mendengarkan dan heboh menunjuk-nunjuk setiap gambar yang menarik di bukunya..
Memberikannya kesempatan menggambar apa saja yang dia ingin gambar (biasanya yang pertama digambar adalah "pecawat", ucap mulut mungilnya) meski secara kasat mata di mata saya masih terlihat serba abstrak.. Hehe
Menari (lebih seperti senam sih..) dan bernyanyi bersama dengan antusias diiringi berbagai lagu ceria dan positif.. Meski gerakan si kecil masih suka-suka sendiri.. Emaknya kemana,,anaknya kemana..hihi.. Efektif untuk membuat saya semangat berolahraga dengan cara yang menyenangkan.. ^_^

Dan sebagainya..

Posisi saya yang berstatus sebagai seorang ibu yang nyambi menjadi seorang pegawai di sebuah instansi pemerintahan, LDR (Long Distance Relationship) dengan suami tercintah, dan saat ini sedang memilih untuk TIDAK menggunakan jasa ART (Asisten Rumah Tangga), tinggal lumayan jauh dari keluarga atau orang tua di Bogor (berjarak sekitar 7-8 jam perjalanan dari mereka), membuat diri ini setiap hari harus berusaha keras untuk belajar memenej segalanya sendiri. Termasuk bagaimana saya berupaya mendidik anak saya.

Aktifitas rutin dari pagi hingga malam hari seperti menyiapkan segala keperluan kantor dan perlengkapan "perang" si kecil untuk selama dia bermain di daycare saat jam kantor nanti, memasak bekal makanan seharian, menyiapkan cemilan, merapihkan rumah, memandikan si kecil, mengantarkan si kecil ke daycare, menjemputnya pulang ke rumah, bermain di rumah, belajar bersama, masak untuk makan malam, bercerita, hingga dia terlelap tidur malam, dan lain-lain, terasa begitu crowded.. cukup melelahkan.. menguji emosi dan mental.. Bahkan terkadang air mata..

Namun.. Saya sadar, bahwa semua rutinitas itu tak akan bermakna banyak, jika saya tidak mengupayakan untuk mengisi setiap jenaknya dengan ruh..dengan jiwa.. Serta dengan ilmu, cara, dan niat yang benar..

Bahwa misi menjadi orang tua, adalah menjadi pengawal bagi terlahirnya para muharrik peradaban..

Membuat diri ini harus banyak belajar bahwa semua aktifitas yang saya lakukan bersama seorang anak itu adalah sesuatu yang harus memiliki nilai dan makna untuknya.. Untuk bekal panjang kehidupannya.. 

Saya, seorang yang masih jauh dari sempurna dan penuh dengan berbagai kekurangan, mau tidak mau harus berusaha kuat untuk dapat menjadi sosok teladan baginya, "si peniru ulung".. Meski diri ini pun terkadang masih terseok-seok dalam menjalaninya.
Menjadi orang tua adalah bagaimana menjadi seorang pembelajar..
Belajar kuat dihadapannya, tidak cengeng.. Untuk mengajarkannya menjadi manusia yang kuat pula..
Belajar mengendalikan kata-kata.. Untuk mengajarkannya bagaimana berkata yang baik dan benar..
Belajar mengendalikan emosi.. Untuk mengajarkannya makna kesabaran..
Dan belajar akan berbagai hal lainnya yang penting untuknya.. Untuk hidupnya..dan akhiratnya tentunya.. 

Alhamdulillah, kondisi ini terasa lebih ringan, terutama ketika saya sadar, bahwa saya tidak sendirian mendidiknya.. 
Meski tidak setiap hari saya dan suami bertemu (biasanya bertemu setiap weekend atau saat suami free time), saya sadar betul, bahwa suami adalah seorang yang berpengaruh besar dalam kehidupan saya.. Ya.. Karena dialah partner sejati saya dalam mendidik si buah hati..
Entah dari jauh atau pun dari dekat, dia tetap berusaha untuk menghadirkan sosoknya bersama saya dan si kecil. Entah itu berbagi ilmu baru, mendengarkan ocehan dan curhatan saya, mengajak si kecil bermain saat bersama, kerap berkomunikasi via berbagai media, dan berbagai hal lainnya dalam upaya "membersamai" kami..
Namun, yang terpenting dari itu semua adalah kesamaan misinya dengan saya, yang saya rasakan, dalam bagaimana mendidik anak kami ini. 

Kehadiran para ibu hebat di luar sana juga turut andil dalam membuat saya "iri", Ya.. Perasaan "iri" yang menumbuhkan motivasi dalam diri saya untuk ikut belajar bersama mereka dari jauh. Belajar bagaimana cara mendidik diri ini menjadi sosok seorang ibu yang lebih baik lagi..
Terimakasih ya.. :)

Dan saya pun percaya.. 
Banyak sekali keajaiban dan pelajaran yang akan kita rasakan saat kita menjadi orang tua..

Namun, di luar itu semua..
Ada sebuah hal penting yang saya catat.
Bahwa...
Pada akhirnya, menjadi orang tua adalah tentang bagaimana kita belajar akan kehidupan itu sendiri.. 
Tentang kemana arah kita kan menuju..

"Maka ke manakah kamu akan pergi?"
"Fa aina tadzhabuun.." (QS. At-Takwir: 26)

Begitulah... :)

Laa haula walaa quwwata illaa billaah..

****
Tasikmalaya, 16 September 2014
Malam, selepas si kecil tertidur lelap

Sekedar berbagi, semoga bermanfaat..

:)

Gambar sisip 1

Dua Bulanan Menjelang Genap 3 Tahun

Bismillah..

Alhamdulillah wa syukurillah..
Tak terasa 2 bulanan lagi genap 3 tahun usia pernikahan saya dan suami.
Menyesal sekali rasanya membiarkan blog berdebu terlalu lama.. Mengingat sudah terlalu banyak kenangan yg terlewat yg telah dijalani bersama.
Suka..duka..tangis..bahagia., smuanya bersatu padu dalam perjalanan kami yg sebenarnya sih belum seberapa.

Kondisinya saat ini saya dan suami harus berikhlas ria menjalani hubungan jarak jauh (LDR) karena kendala beberapa hal..
Jujur.. Inilah salah satu faktor yg membuat pernikahan kami terasa mengharu biru.. Indah.. Penuh sensasi.. Dan kesabaran ekstra tentunya.

Entah berapa banyak bulir air mata yg saya teteskan disaat saya enggan berpisah sejenak dengannya dikala kondisi mengharuskan.. Meski hanya berpisah tempat.. Namun rasanya terlalu banyak yg hilang yg ingin saya lakukan bersamanya..
Alhamdulillah.. Kehadiran si kecil (Meru) yang senantiasa mengingatkan saya utk selalu sabar dan bersyukur.. Bahwa kami semua tidak kemana mana kok... Cinta kami ada disini, bersatu..

Alhamdulillah pula.. Suami senantiasa membimbing dan menguatkan.. Meski saya tahu betul bahwa dia pun tentu di lubuk hatinya membutuhkan saya selalu berada di tempat yg sama dengannya setiap hari.. Mmbersamainya.
Namun, dengan segala kebesaran jiwanya, dia berikan terus senyuman hangat itu.. Dia rela harus pulang pergi tiap weekend (Tasik-Bandung) untuk pulang menemui saya dan Meru.. Dia lontarkan lelucon-lelucon renyah demi saya tertawa lagi.. Dia kuatkan saya setiap saya mulai mengeluh.. Dia bagi berbagai ilmu saat saya mulai malas belajar.. Dia ajak saya menjalani berbagai petualangan bersama saat saya bosan.. Dia ajak saya bermimpi besar saat saya ragu.. Dia... Dia.. Dia..

Alhamdulillah..

Sewajarnya sebuah rumah tangga, tentu ada saja konflik mendera..
Namun, seiring berjalannya waktu.. Kedewasaan terasa sudah mulai berada dalam diri kami masing-masing..
Pandangan terhadap berbagai masalah sudah jauh berbeda dibanding awal-awal pernikahan dulu..
Apapun masalahnya, semua ada penyelesaian.. Dengan kepala dingin..
Saling meminta maaf lebih dahulu,, saling membuka komunikasi hangat tiada jarak..
Saling mengerti..
Saling memahami..
Saling percaya..

Semua terasa begitu luar biasa..
Indah..
Benar kata suami saya.. Pasti ada hikmah dibalik apapun yg kami hadapi..
Perjalanan cinta kami yg berlika liku dengan berbagai rasa,,
Katanya..
Membuat cinta ini bukan sekedar romansa cinta biasa..
Namun lebih dari itu.. Jauhhh lebih dari itu..

Yap, cinta yg menumbuhkan., itulah hakikat cinta yg sebenarnya..
Cinta yang membuat para pelakunya berubah, berkembang, terus bermetamorfosis menjadi lebih baik..

Mengingatkan kembali janji kami di awal pernikahan,
"Mencintai untuk semakin mencintaiNya"

Itulah dia..

Sungguh manis..

Alhamdulillah...

Terimakasih Allah..

:)

###
Bis Budiman,
Tasikmalaya, 15 Agustus 2014