Berawal dari eksperimen si kecil yang terlalu "antusias" hingga
akhirnya berkali-kali terbanting-banting.
Bukan hanya oleh si kecil.. Tapi saya sendiri pun memiliki andil besar dalam
hal ini. Setiap saya lengah, ada saja adegan si BeB bercerai berai di rantai..
Entah itu "terpeleset" dari tangan hingga terlempar lah.. Atau
terjatuh tanpa sengaja dari kantong, dll..
Maafkan daku ya BeB (singkatan dari BeBe).
Sudah 3 bulanan saya membiarkanmu mati..
Awalnya saya masih tenang-tenang saja, karena entah mengapa si BeB kuat
sekali rupanya. Berkali-kali terjun bebas, masih saja setia menyala dan dapat
saya pakai untuk menjalani bisnis online kecil-kecilan saya yang memang sangat
mengandalkan bantuannya.
Namun, si BeB sepertinya sudah mulai tak kuat menjelang bulan Ramadhan
kemarin. Tiba-tiba tanpa ada peringatan seringkali dia "pingsan",
hingga berkali-kali harus saya hidupkan ulang dengan tak lupa melewati jam
pasir nya yang khas dan cukup menguji kesabaran. Kemudian berlanjut pada daya
baterai yang hanya kuat menyala untuk beberapa menit, sampai parahnya saat
dipakai harus terus dalam keadaan di "infus" dengan listrik.
Saya dari dulu memang sangat pemalas dalam urusan servis-menyervis barang
elektronik atau gadget yang rusak. Kondisi seperti ini dengan santainya saya
biarkan, dan membuat saya memutuskan untuk libur jualan online selama
Ramadhan.. (mumpung mempeung ceritanya).
Pinjaman Hp Nokiyem jadul dari suami pun memanjakan saya untuk mulai
melupakan si BeB yang penuh jasanya. Sekedar bisa telepon dan sms-an saja sudah
cukup nyaman buat saya.. Untuk urusan internetan, Mini Ipad yang saya
"rampas" secara sukarela dari suami pun sudah lebih dari cukup.
Konsekuensinya? Negatifnya, saya gak bisa bebeeman dan whatsapan pastinya.
Saya pun jadi vakum dari beberapa grup yang saya join di dalamnya.. Positifnya,
entah mengapa kok saya merasa lebih happy ya? Gak ngerti deh, mungkin karena
saya jenuh ya dari bunyi tang ting tong notif dari berbagai grup dan chat.. Rasanya
saya bisa lebih banyak fokus untuk hal riil lain, mungkin lebih tepatnya rehat
sih dari dunia bbm dan whatsapp itu..
Menjelang Lebaran, suami mendesak saya untuk memperbaiki si Beb. Akhirnya,
saya pun tergerak hatinya untuk menyelamatkan si BeB. Dan ternyata,
kerusakannya hanya di bagian connector daya nya saja.. Alhamdulillah pas Lebaran si Beb nyala dan
berjasa membuat saya bisa mengucapkan selamat Lebaran dan permohonan maaf ke
semua kontak saya yang tersimpan di sana.
Namun, belum sempat saya menerima balasan dari teman-teman, si BeB tanpa
permisi mati lagi.
Huhuhu.. PhP banget deh..
Dan kali ini diganti baterenya pun tetap tak mau menyala..
Dan sekarang nambah lagi rajukan dari si hp nokiyem, layarnya mati
tiba-tiba..
Semua gadget jadi tidak terpakai.. (kecuali
mini ipad, Alhamdulillah baik-baik sajaaa. Kalo rusak, mahal soalnya, garansi
dah abis…T_T) Dan saya mulai menyadari, bahwa, saya telah zholim.
Zholim kepada hp-hp saya karena saya kurang merawatnya dengan baik..
Menyepelekan servisnya pula dengan menutupinya menggunakan alasan, tanpa
gadget smartphone macam BeB, hidup saya baik-baik saja.
Padahal tanpa sadar saya telah memelihara sifat cuek, dan teledor.
Meskipun mereka bukan makhluk hidup, tapi bagaimana saya merawat mereka,
akan menunjukkan pula bagaimana saya merawat yang lain..
Sementara saya kini sudah menjadi seorang ibu yang tentu dibawah tanggung
jawab saya terdapat seorang anak manusia yang tak dapat dinilai dan digantikan
dengan apapun dan tentunya tidak dapat saya servis seenak udel saat kondisinya
tidak baik apalagi sampai membiarkannya “rusak”. Meskipun Alhamdulillah saya
tidak memperlakukan anak saya seperti saya memperlakukan gadget saya tentunya. Namun,
tetap saja, kebiasaan dan sikap teledor
terhadap barang-barang pribadi tersebut bukanlah kebiasaan yang boleh
dipelihara.
Fiuhhh..
Terimakasih ya BeB dan Nokiyem ku tersayang..
You make me realize that everything that we have should be treated carefully
in special way. No matter what it is.
Belajar…belajar…belajar..
NB: Toko online saya tetap vakum sementara waktu terlepas dari rusaknya si
BeB. Lagi pengen fokus ngurusin si kecil. ^__^
Jumat, 19 September 2014
Kamis, 18 September 2014
** Working Mom Dalam Fikiran Saya**
Seringkali
batin ini tersenyum, kadang meringis, jika kebetulan membaca cerita
tentang dilema para ibu yang ribut soal pilihan akan menjadi ibu yang
full time di rumah (ibu rumah tangga) kah atau ibu yang selain mengurus
keluarga juga memiliki pekerjaan lain di luar rumah.
Hal ini cukup diperparah dan semakin tersorot kala di medsos pun seringkali terlihat beredar
aneka editan foto yang berisi tulisan dengan nada2 sindiran sarkastik
yang ditujukan kepada para ibu yang juga berkarier di luar rumah.
Seolah,
ada dikotomi yang sengaja dibentuk untuk menciptakan kesan bahwa salah
satu pihak pasti lebih baik daripada yang satunya, dan salah satu pihak
pasti lebih buruk dari salah satunya pula.
Ya!
Saat ini posisi saya memang sebagai seorang ibu yang juga menyambi
pekerjaan tetap di luar rumah, yakni sebagai seorang pegawai ikatan
dinas di sebuah kementerian. Saya sudah pernah tentunya melewati
berbagai pergulatan batin, emosi, dan bahkan air mata akan pilihan yang
saya ambil saat ini. Dengan hasil diskusi panjang serta dukungan penuh
dari orang tua dan juga suami terkasih, saya pun menguat-nguatkan diri
untuk go fight menjalaninya. Menjalani tugas dan panggilan negara yang
telah menyediakan pendidikan (ikatan dinas) untuk saya. Mencoba
mengamalkan ilmu yang saya dapat semasa kuliah, dengan juga mengerjakan
tugas-tugas utama saya sebagai seorang ibu. Meski bukan tidak mungkin
pilihan saya berubah di suatu masa nanti. Yes, ini tentang pilihan dan
kesiapan dalam menghadapi segala konsekuensinya.
Akan tetapi, tetap saja, the show must go on..
Sebenarnya,
ketika kita berfikir ulang.. Tidak ada yang mesti diperdebatkan
mengenai hal ini. Saya merasa tidak perlu mencari contoh jauh-jauh..
contoh terdekat bagi saya adalah ketika saya berkaca pada sosok ibu saya
(Almarhumah).
Mengingat
tentang Alm. ibu (baca: Ummi) saya, adalah mengingat tentang seorang
wanita bersahaja, kuat, tegar, cerdas dan luar biasa dengan 9 orang
anak. Nyaris hampir tanpa pembantu ataupun baby sitter.. (Sesekali
pembantu paro waktu yang membantu urusan setrika-menyetrika).
Mendengar
cerita-cerita tentang perjuangannya membesarkan anak-anaknya selalu
membuat hati berdecak kagum. Jarak antar anak yang rerata 3 tahunan
(hanya saya dan kakak di atas saya yang beda jauh 10 tahunan) membuat
pada masanya beliau harus ektra keras memperhatikan satu- satu kebutuhan
setiap anaknya. Kebutuhan akan segala yang bersifat material, kebutuhan
akan kedekatan fisik, kebutuhan akan pengembangan mental, sikap, dan
juga agama.. Semua dilakukannya bersama Ayah (baca: Apak) saya tentunya.
Dan
meski terlahir dalam sebuah keluarga besar seperti ini (saya anak
ke-8), terpatri dalam ingatan saya bahwa saya merasa bahagia dengan
mereka. Saya bangga memiliki orang tua seperti mereka..
Lalu,
melihat keberhasilan ini apakah lantas ditafsirkan bahwa ibu saya
seorang ibu rumah tangga full sepanjang hidupnya yang senantiasa stay di
rumah full time?
47
tahun usia pernikahannya memberinya ruang, kesempatan, untuk melewati
berbagai fase... Entah itu dalam fase di saat ekonomi keluarga di atas
angin ataupun saat dalam fase kekurangan.. Entah dalam fase dikala sehat
bugar ataupun dalam fase saat-saat beliau sakit menahun. Dan berbagi
fase lain yang harus beliau jalani dengan kuat..
Beberapa fragmen saat ibu juga ikut bekerja keras di luar rumah saya ingat..
Dulu
saat Ayah saya fokus usaha wirausaha dengan berniaga di pasar, ibu
kerapkali membantu beliau di sana.. Ikut mengurus dagangan.. Yang kita
tahu bahwa dunia dagang berdagang di pasar bukanlah dunia yang menurut
kita nyaman bagi seorang perempuan..
Dulu
saat Ayah saya usaha di bidang perkebunan/pertanian, ibu saya juga
kerap kali ikut terjun ke kebun dari pagi sampai siang berpanas-panasan
untuk menyabit, hingga merawat kebun tersebut meski sebenarnya sudah ada
orang lain yang dipekerjakan oleh Ayah saya.
Dulu
saat Ayah saya panen, entah itu panen buah, panen cengkeh, ataun
sayuran, ibu juga ikut terjun dalam prosesnya bahkan kadang sampai
penyiapan untuk siap jual.
Dan
berbagai fragmen lainnya yang tentu masih jauh lebih banyak yang belum
saya tahu karena saya belum lahir.. (Kakak-kakak saya lebih hapal).
Semua
dilakukan di tengah beliaupun memiliki masalah kesehatan yakni darah
tinggi dan diabetes hingga akhirnya beliau harus full time istirahat di
rumah di masa tuanya karena ujian berupa strouke yang menimpanya selama
beberapa tahun dari saya awal masuk kuliah. Semua beliau lalui dengan
ikhlas dan tabah dibalik sikap pendiamnya yg penuh ketenangan.. Hingga
kini ketenangan 'abadi' telah merengkuhnya..
Tanpa ada istilah working mom ataupun stay at home mom..
Kisah
ibu saya mengajarkan, bahwa pada dasarnya semua ibu adalah working mom,
tak terkecuali.. Bahwa semua ibu adalah pejuang.. Bahwa semua ibu ingin
melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya dengan berbagai perjuangannya
masing-masing..
Maka
please, hentikanlah sikap nyinyir, sikap saling tuding bahkan bully
satu sama lain atas nama perbedaan jalan juang antara para ibu.. Karena,
sikap seperti itu menurut saya menandakan bahwa kita belum berbesar
hati dan bersikap dewasa akan warna hidup yang dilalui.
Mengutip
kata seseorang, bahwa setiap kita memiliki perjuangannya masing-masing,
dengan caranya masing-masing.. Maka menangkanlah, "Win yours without
'nyinyir' to other"..
*Salam Super untuk seluruh ibu hebat di dunia^__^
*Menjadi Orang Tua Adalah.......*
"Pecawaaattt....!!"
teriak si kecil histeris.
"Nguing...zuuummmmm... zuummmmm...
Yeayyy terbaang...!!" sahut saya.
Dan si kecil pun
tertawa-tawa lepas kegirangan.
Begitulah cuplikan
edisi waktu bermain untuknya hari ini.
Ceritanya, Meru (21
bulan) akhir-akhir ini sedang senang-senangnya dengan segala macam yang berbau
pesawat. Jadilah di setiap ada kesempatan bermain bersama, ada saja
imajinasinya yang berhubungan dengan pesawat. Entah itu "menggambar"
pesawat,, "menaiki" pesawat,, antusias setiap kali melihat pesawat
sungguhan, mainan, ataupun gambarnya,, dan lain-lain..
Hingga tadi malam,
saya pun berubah sejenak menjadi "pesawat terbang" untuknya.
Dengan sedikit
mengerahkan tenaga.. Dan swuuuungggg!! Si kecil pun saya terbangkan (dengan
cara diangkat melintang, ala superman) keliling dalam rumah. Hehe..
Selain bermain
pesawat, waktu-waktu berharga pagi sampai malam hari pun kami upayakan isi
bersama dengan berbagai kegiatan seru yang saya usahakan semaksimal mungkin
penuh manfaat untuk tumbuh kembangnya..
Mulai dari rutin
membacakan surat-surat pendek untuknya terkait program belajar hapalan meski
dia baru bisa mendengarkan saja..
Membiasakan
mengajaknya membaca doa setiap akan melakukan aktivitas meski dia baru
mengikuti terpatah-terpatah dan mengaminkannya..
Mengajaknya sholat
bersama, meski dia baru meniru seadanya (sikap berdiri dan sujud)..
Membacakan cerita
untuknya.. Entah itu kisah tentang Rasulullah, atau sahabat, atau cerita
dongeng lainnya meski dia masih baru fokus mendengarkan dan heboh
menunjuk-nunjuk setiap gambar yang menarik di bukunya..
Memberikannya
kesempatan menggambar apa saja yang dia ingin gambar (biasanya yang pertama
digambar adalah "pecawat", ucap mulut mungilnya) meski secara kasat
mata di mata saya masih terlihat serba abstrak.. Hehe
Menari (lebih seperti
senam sih..) dan bernyanyi bersama dengan antusias diiringi berbagai lagu ceria
dan positif.. Meski gerakan si kecil masih suka-suka sendiri.. Emaknya
kemana,,anaknya kemana..hihi.. Efektif untuk membuat saya semangat berolahraga
dengan cara yang menyenangkan.. ^_^
Dan sebagainya..
Posisi saya yang
berstatus sebagai seorang ibu yang nyambi menjadi seorang pegawai di sebuah
instansi pemerintahan, LDR (Long Distance Relationship) dengan suami tercintah,
dan saat ini sedang memilih untuk TIDAK menggunakan jasa ART (Asisten Rumah
Tangga), tinggal lumayan jauh dari keluarga atau orang tua di Bogor (berjarak
sekitar 7-8 jam perjalanan dari mereka), membuat diri ini setiap hari harus
berusaha keras untuk belajar memenej segalanya sendiri. Termasuk bagaimana saya
berupaya mendidik anak saya.
Aktifitas rutin dari
pagi hingga malam hari seperti menyiapkan segala keperluan kantor dan
perlengkapan "perang" si kecil untuk selama dia bermain di daycare
saat jam kantor nanti, memasak bekal makanan seharian, menyiapkan cemilan,
merapihkan rumah, memandikan si kecil, mengantarkan si kecil ke daycare,
menjemputnya pulang ke rumah, bermain di rumah, belajar bersama, masak untuk
makan malam, bercerita, hingga dia terlelap tidur malam, dan lain-lain, terasa
begitu crowded.. cukup melelahkan.. menguji emosi dan mental.. Bahkan terkadang
air mata..
Namun.. Saya sadar,
bahwa semua rutinitas itu tak akan bermakna banyak, jika saya tidak
mengupayakan untuk mengisi setiap jenaknya dengan ruh..dengan jiwa.. Serta
dengan ilmu, cara, dan niat yang benar..
Bahwa misi menjadi
orang tua, adalah menjadi pengawal bagi terlahirnya para muharrik peradaban..
Membuat diri ini harus
banyak belajar bahwa semua aktifitas yang saya lakukan bersama seorang anak itu
adalah sesuatu yang harus memiliki nilai dan makna untuknya.. Untuk bekal
panjang kehidupannya..
Saya, seorang yang
masih jauh dari sempurna dan penuh dengan berbagai kekurangan, mau tidak mau
harus berusaha kuat untuk dapat menjadi sosok teladan baginya, "si peniru
ulung".. Meski diri ini pun terkadang masih terseok-seok dalam
menjalaninya.
Menjadi orang tua
adalah bagaimana menjadi seorang pembelajar..
Belajar kuat dihadapannya,
tidak cengeng.. Untuk mengajarkannya menjadi manusia yang kuat pula..
Belajar mengendalikan
kata-kata.. Untuk mengajarkannya bagaimana berkata yang baik dan benar..
Belajar mengendalikan
emosi.. Untuk mengajarkannya makna kesabaran..
Dan belajar akan
berbagai hal lainnya yang penting untuknya.. Untuk hidupnya..dan akhiratnya
tentunya..
Alhamdulillah, kondisi
ini terasa lebih ringan, terutama ketika saya sadar, bahwa saya tidak sendirian
mendidiknya..
Meski tidak setiap
hari saya dan suami bertemu (biasanya bertemu setiap weekend atau saat suami
free time), saya sadar betul, bahwa suami adalah seorang yang berpengaruh besar
dalam kehidupan saya.. Ya.. Karena dialah partner sejati saya dalam mendidik si
buah hati..
Entah dari jauh atau
pun dari dekat, dia tetap berusaha untuk menghadirkan sosoknya bersama saya dan
si kecil. Entah itu berbagi ilmu baru, mendengarkan ocehan dan curhatan saya,
mengajak si kecil bermain saat bersama, kerap berkomunikasi via berbagai media,
dan berbagai hal lainnya dalam upaya "membersamai" kami..
Namun, yang terpenting
dari itu semua adalah kesamaan misinya dengan saya, yang saya rasakan, dalam
bagaimana mendidik anak kami ini.
Kehadiran para ibu
hebat di luar sana juga turut andil dalam membuat saya "iri", Ya.. Perasaan
"iri" yang menumbuhkan motivasi dalam diri saya untuk ikut belajar
bersama mereka dari jauh. Belajar bagaimana cara mendidik diri ini menjadi
sosok seorang ibu yang lebih baik lagi..
Terimakasih ya.. :)
Dan saya pun
percaya..
Banyak sekali keajaiban
dan pelajaran yang akan kita rasakan saat kita menjadi orang tua..
Namun, di luar itu
semua..
Ada sebuah hal penting
yang saya catat.
Bahwa...
Pada akhirnya, menjadi
orang tua adalah tentang bagaimana kita belajar akan kehidupan itu
sendiri..
Tentang kemana arah
kita kan menuju..
"Maka ke manakah
kamu akan pergi?"
"Fa aina
tadzhabuun.." (QS. At-Takwir: 26)
Begitulah... :)
Laa haula walaa
quwwata illaa billaah..
****
Tasikmalaya, 16
September 2014
Malam, selepas si
kecil tertidur lelap
Sekedar berbagi,
semoga bermanfaat..
Dua Bulanan Menjelang Genap 3 Tahun
Bismillah..
Alhamdulillah wa syukurillah..
Tak terasa 2 bulanan lagi genap 3 tahun usia pernikahan saya dan suami.
Menyesal
sekali rasanya membiarkan blog berdebu terlalu lama.. Mengingat sudah
terlalu banyak kenangan yg terlewat yg telah dijalani bersama.
Suka..duka..tangis..bahagia., smuanya bersatu padu dalam perjalanan kami yg sebenarnya sih belum seberapa.
Kondisinya saat ini saya dan suami harus berikhlas ria menjalani hubungan jarak jauh (LDR) karena kendala beberapa hal..
Jujur..
Inilah salah satu faktor yg membuat pernikahan kami terasa mengharu
biru.. Indah.. Penuh sensasi.. Dan kesabaran ekstra tentunya.
Entah
berapa banyak bulir air mata yg saya teteskan disaat saya enggan
berpisah sejenak dengannya dikala kondisi mengharuskan.. Meski hanya
berpisah tempat.. Namun rasanya terlalu banyak yg hilang yg ingin saya
lakukan bersamanya..
Alhamdulillah..
Kehadiran si kecil (Meru) yang senantiasa mengingatkan saya utk selalu
sabar dan bersyukur.. Bahwa kami semua tidak kemana mana kok... Cinta
kami ada disini, bersatu..
Alhamdulillah
pula.. Suami senantiasa membimbing dan menguatkan.. Meski saya tahu
betul bahwa dia pun tentu di lubuk hatinya membutuhkan saya selalu
berada di tempat yg sama dengannya setiap hari.. Mmbersamainya.
Namun,
dengan segala kebesaran jiwanya, dia berikan terus senyuman hangat
itu.. Dia rela harus pulang pergi tiap weekend (Tasik-Bandung) untuk
pulang menemui saya dan Meru.. Dia lontarkan lelucon-lelucon renyah demi
saya tertawa lagi.. Dia kuatkan saya setiap saya mulai mengeluh.. Dia
bagi berbagai ilmu saat saya mulai malas belajar.. Dia ajak saya
menjalani berbagai petualangan bersama saat saya bosan.. Dia ajak saya
bermimpi besar saat saya ragu.. Dia... Dia.. Dia..
Alhamdulillah..
Sewajarnya sebuah rumah tangga, tentu ada saja konflik mendera..
Namun, seiring berjalannya waktu.. Kedewasaan terasa sudah mulai berada dalam diri kami masing-masing..
Pandangan terhadap berbagai masalah sudah jauh berbeda dibanding awal-awal pernikahan dulu..
Apapun masalahnya, semua ada penyelesaian.. Dengan kepala dingin..
Saling meminta maaf lebih dahulu,, saling membuka komunikasi hangat tiada jarak..
Saling mengerti..
Saling memahami..
Saling percaya..
Semua terasa begitu luar biasa..
Indah..
Benar kata suami saya.. Pasti ada hikmah dibalik apapun yg kami hadapi..
Perjalanan cinta kami yg berlika liku dengan berbagai rasa,,
Katanya..
Membuat cinta ini bukan sekedar romansa cinta biasa..
Namun lebih dari itu.. Jauhhh lebih dari itu..
Yap, cinta yg menumbuhkan., itulah hakikat cinta yg sebenarnya..
Cinta yang membuat para pelakunya berubah, berkembang, terus bermetamorfosis menjadi lebih baik..
Mengingatkan kembali janji kami di awal pernikahan,
"Mencintai untuk semakin mencintaiNya"
Itulah dia..
Sungguh manis..
Alhamdulillah...
Terimakasih Allah..
:)
###
Bis Budiman,
Tasikmalaya, 15 Agustus 2014
Langganan:
Komentar (Atom)