Aku
mengendarai mobil ke utara di jalan bebas hambatan 405 menuju Los Angeles di
pagi hari Senin yang mendung. Tiba-tiba ada perasaan kuat yang mendorongku
untuk berbalik arah. Aku dalam perjalanan
ke tempat kerja, kataku pada diri
sendiri. Aku harus masuk hari ini. Ada tenggat
yang harus kupenuhi. Aku tak mungkin berbalik dan pulang begitu saja. Kecuali itu, aku sudah hampIr sampai tujuan. Di
depan sana, tampak gedung berlantai Sembilan dengan cat dinding warna beige. Aku
bekerja di sebuah bank di gedung itu. Tetapi
suara yang mengusik hatiku semakin keras, nyaris seperti teriakan dalam hati
yang bisa didengar. Tahu-tahu aku sudah berbalik arah ke selatan, ke rumah
pengasuh bayiku.
Pulang. Lebih
dari apapun, aku sangat ingin berada di rumah bersama Alicia, anakku yang
berumur 10 bulan. Aku sangat ingin memeluknya, membacakan cerita untuknya, dan
mengatakan kepadanya bahwa hidup ini sungguh istimewa jika kita dikelilingi
orang-orang yang mencintai kita. Aku merasa pipiku panas. Air mata hangat
mengalir membasahinya. Apa yang salah
dengan diriku hari ini?
Aku hanya
perlu menjemputnya dari rumah pengasuhnya lalu membawanya pulang. Sepanjang pagi
tadi, aku ragu-ragu hendak mengantarkan Alicia ke rumah Pat. Aku menikmati pagi
hari tadi bersamanya. Kami sarapan bersama, tertawa-tawa, dan bermain. Aku benci
harus mengakhiri saat-saat menyenangkan itu dan bergegas keluar rumah untuk
mengantarkan Alicia ke rumah Pat. Untunglah aku punya pengasuh bayi yang hebat.
Dia tetanggaku, perempuan tua yang baik hati, teman ayahku, dan benar-benar
bisa kupercaya.
Ketika aku
meninggalkan Alicia di rumah Pat, anakku memandangku dengan mata seakan
bertanya, “Mama meninggalkan aku lagi?” Mata birunya tampak sedih, bibir
bawahnya bergetar. Dia gadis cilik yang manis, tidak menangis waktu melambai
pada ibunya. Justru aku lah yang menangis sambil menyetir menuju kantor.
Sekarang,
memasuki kawasan tempat tinggal pengasuh anakku, tak sampai setengah jam
setelah meninggalkannya, hatiku merasa lega. Aku telah mengambil keputusan yang
benar, setidaknya untuk hari ini.
Sampai beberapa
jam kemudian, dorongan untuk bersama anakku terasa semakin kuat. Aku ingin
berada bersamanya ketika dia melangkah untuk pertama kali, aku ingin meresapkan
saat-saat ketika dia mengucapkan kalimat lengkap pertama. Aku tak ada di
dekatnya ketika untuk pertama kalinya dia tersenyum waktu berumur tiga bulan. Pengasuh
bayiku menelepon ke kantor, mengabarkan peristiwa istimewa itu. Aku hanya bisa
duduk dan menangis, membuat teman-teman sekantorku heran dan cemas.
Selama beberapa
minggu kemudian, aku berhasil mengendarai mobilku ke kantor tanpa berbalik. Umurku
awal dua puluhan. Aku bangga bisa mengumpulkan keberanianku untuk kembali
bekerja setelah melahirkan anakku. Aku telah berhasil mencapai jenjang tertentu
di kantorku. Aku pekerja keras yang selalu tepat waktu dalam menyelesaikan
tugas. Rutinitasku, setelah seharian bekerja, aku menjemput Alicia di rumah
pengasuhnya lalu menghabiskan sisa hari itu bersamanya. Aku ibu rumah tangga
yang penuh tanggung jawab, istri yang setia, dan ibu yang penuh cinta. Tetapi,
malam hari sepanjang minggu dan akhir pekan bersama Alicia terasa masih kurang.
Anakku tumbuh cepat; setiap hari selalu ada perubahan pada dirinya. Aku hanya
bisa menyaksikan setengah dari semua perubahan yang indah itu; dan aku tahu,
masih aka nada perubahan yang menakjubkan.
Kemudian,
tibalah hari itu. Pengasuh bayiku menelepon, mengabarkan “berita gembira” itu. Alicia
mulai berjalan! “kau seharusnya di sini dan melihatnya sendiri, Kim,” kata Pat.
Mendengar semua ceritanya, aku menjawab, “Ya, seharusnya.” Tanpa berkata-kata
kuletakkan telepon dan kukeraskan hatiku agar tak menangis. Itu terakhir
kalinya aku melewatkan tonggak-tonggak penting dalam masa pertumbuhan anakku. Aku
berdiri, lalu membenahi barang-barangku. Nhari itu juga aku mengundurkan diri.
Aku mengendarai
mobilku, pulang.
Beberapa tahun
berikutnya, adalah tahun-tahun paling bahagia dalam hidupku. Aku menghabiskan
seluruh waktuku bersama anakku. Suamiku sangat penuh pengertian. Dia kelihatan
senang pulang ke rumah dan mendapati dua “gadis” nya sudah menantikannya. Setiap
malam dia mendengarkan berita terakhir tentang kemajuan Alicia. Anak kami
bertumbuh dari bayi menjadi kanak-kanak menggemaskan yang mulai bisa berjalan,
kemudian menjadi gadis muda yang bahagia dan pandai bergaul.
Aku telah
melakukan hal yang benar bagi diriku. Banyak ibu lain yang pandai
menyeimbangkan tugas di tempat kerja dengan tugas seorang ibu tanpa kesulitan. Aku
tidak termasuk tipe itu. Aku suka memasak, membuat roti, menjahit, dan tinggal di
rumah. Ketika Matthew lahir, karunia yang kuterima terasa berlipat-lipat. Aku sangat
senang melihat anak-anakku bertumbuh, berubah, dan belajar segala sesuatu. Aku bisa
melihat dan menikmati saat-saat istimewa bersama mereka—saat-saat yang berlalu
begitu cepat dan terlepas begitu saja dari genggaman kita.
Setelah Alicia
punya anak, aku membantu mengasuh anak sulungnya. Aku bisa menikmati saat-saat
ketika Emi, cucuku, tersenyum, berjalan, dan tertawa untuk pertama kalinya. Lebih
dari semua itu, aku bersyukur diberi kesempatan mengalami semua saat istimewa
itu bersama Alicia, yang saat-saat istimewa “pertamanya” tak sempat kunikmati. Pengalaman
terbaikku adalah melihat Alicia tersenyum sambil menangis bahagia ketika
mendengar Emi untuk pertama kalinya berkata, “I love you, Mama.”
#Dikutip dari Chicken Soup For
The Working Mom’s Soul: Kimberly Kimmel


