Kamis, 06 Juni 2013

Pertama-tama: Seorang Ibu (Pas banget sama perasaan saya.. T_T)


Aku mengendarai mobil ke utara di jalan bebas hambatan 405 menuju Los Angeles di pagi hari Senin yang mendung. Tiba-tiba ada perasaan kuat yang mendorongku untuk berbalik arah. Aku dalam perjalanan ke tempat kerja,  kataku pada diri sendiri. Aku harus masuk hari ini. Ada tenggat yang harus kupenuhi. Aku tak mungkin berbalik dan pulang begitu saja.  Kecuali itu, aku sudah hampIr sampai tujuan. Di depan sana, tampak gedung berlantai Sembilan dengan cat dinding warna beige. Aku bekerja di sebuah  bank di gedung itu. Tetapi suara yang mengusik hatiku semakin keras, nyaris seperti teriakan dalam hati yang bisa didengar. Tahu-tahu aku sudah berbalik arah ke selatan, ke rumah pengasuh bayiku.
Pulang. Lebih dari apapun, aku sangat ingin berada di rumah bersama Alicia, anakku yang berumur 10 bulan. Aku sangat ingin memeluknya, membacakan cerita untuknya, dan mengatakan kepadanya bahwa hidup ini sungguh istimewa jika kita dikelilingi orang-orang yang mencintai kita. Aku merasa pipiku panas. Air mata hangat mengalir membasahinya. Apa yang salah dengan diriku hari ini?
Aku hanya perlu menjemputnya dari rumah pengasuhnya lalu membawanya pulang. Sepanjang pagi tadi, aku ragu-ragu hendak mengantarkan Alicia ke rumah Pat. Aku menikmati pagi hari tadi bersamanya. Kami sarapan bersama, tertawa-tawa, dan bermain. Aku benci harus mengakhiri saat-saat menyenangkan itu dan bergegas keluar rumah untuk mengantarkan Alicia ke rumah Pat. Untunglah aku punya pengasuh bayi yang hebat. Dia tetanggaku, perempuan tua yang baik hati, teman ayahku, dan benar-benar bisa kupercaya.
Ketika aku meninggalkan Alicia di rumah Pat, anakku memandangku dengan mata seakan bertanya, “Mama meninggalkan aku lagi?” Mata birunya tampak sedih, bibir bawahnya bergetar. Dia gadis cilik yang manis, tidak menangis waktu melambai pada ibunya. Justru aku lah yang menangis sambil menyetir menuju kantor.
Sekarang, memasuki kawasan tempat tinggal pengasuh anakku, tak sampai setengah jam setelah meninggalkannya, hatiku merasa lega. Aku telah mengambil keputusan yang benar, setidaknya untuk hari ini.
Sampai beberapa jam kemudian, dorongan untuk bersama anakku terasa semakin kuat. Aku ingin berada bersamanya ketika dia melangkah untuk pertama kali, aku ingin meresapkan saat-saat ketika dia mengucapkan kalimat lengkap pertama. Aku tak ada di dekatnya ketika untuk pertama kalinya dia tersenyum waktu berumur tiga bulan. Pengasuh bayiku menelepon ke kantor, mengabarkan peristiwa istimewa itu. Aku hanya bisa duduk dan menangis, membuat teman-teman sekantorku heran dan cemas.
Selama beberapa minggu kemudian, aku berhasil mengendarai mobilku ke kantor tanpa berbalik. Umurku awal dua puluhan. Aku bangga bisa mengumpulkan keberanianku untuk kembali bekerja setelah melahirkan anakku. Aku telah berhasil mencapai jenjang tertentu di kantorku. Aku pekerja keras yang selalu tepat waktu dalam menyelesaikan tugas. Rutinitasku, setelah seharian bekerja, aku menjemput Alicia di rumah pengasuhnya lalu menghabiskan sisa hari itu bersamanya. Aku ibu rumah tangga yang penuh tanggung jawab, istri yang setia, dan ibu yang penuh cinta. Tetapi, malam hari sepanjang minggu dan akhir pekan bersama Alicia terasa masih kurang. Anakku tumbuh cepat; setiap hari selalu ada perubahan pada dirinya. Aku hanya bisa menyaksikan setengah dari semua perubahan yang indah itu; dan aku tahu, masih aka nada perubahan yang menakjubkan.
Kemudian, tibalah hari itu. Pengasuh bayiku menelepon, mengabarkan “berita gembira” itu. Alicia mulai berjalan! “kau seharusnya di sini dan melihatnya sendiri, Kim,” kata Pat. Mendengar semua ceritanya, aku menjawab, “Ya, seharusnya.” Tanpa berkata-kata kuletakkan telepon dan kukeraskan hatiku agar tak menangis. Itu terakhir kalinya aku melewatkan tonggak-tonggak penting dalam masa pertumbuhan anakku. Aku berdiri, lalu membenahi barang-barangku. Nhari itu juga aku mengundurkan diri.
Aku mengendarai mobilku, pulang.
Beberapa tahun berikutnya, adalah tahun-tahun paling bahagia dalam hidupku. Aku menghabiskan seluruh waktuku bersama anakku. Suamiku sangat penuh pengertian. Dia kelihatan senang pulang ke rumah dan mendapati dua “gadis” nya sudah menantikannya. Setiap malam dia mendengarkan berita terakhir tentang kemajuan Alicia. Anak kami bertumbuh dari bayi menjadi kanak-kanak menggemaskan yang mulai bisa berjalan, kemudian menjadi gadis muda yang bahagia dan pandai bergaul.
Aku telah melakukan hal yang benar bagi diriku. Banyak ibu lain yang pandai menyeimbangkan tugas di tempat kerja dengan tugas seorang ibu tanpa kesulitan. Aku tidak termasuk tipe itu. Aku suka memasak, membuat roti, menjahit, dan tinggal di rumah. Ketika Matthew lahir, karunia yang kuterima terasa berlipat-lipat. Aku sangat senang melihat anak-anakku bertumbuh, berubah, dan belajar segala sesuatu. Aku bisa melihat dan menikmati saat-saat istimewa bersama mereka—saat-saat yang berlalu begitu cepat dan terlepas begitu saja dari genggaman kita.
Setelah Alicia punya anak, aku membantu mengasuh anak sulungnya. Aku bisa menikmati saat-saat ketika Emi, cucuku, tersenyum, berjalan, dan tertawa untuk pertama kalinya. Lebih dari semua itu, aku bersyukur diberi kesempatan mengalami semua saat istimewa itu bersama Alicia, yang saat-saat istimewa “pertamanya” tak sempat kunikmati. Pengalaman terbaikku adalah melihat Alicia tersenyum sambil menangis bahagia ketika mendengar Emi untuk pertama kalinya berkata, “I love you, Mama.”

#Dikutip dari Chicken Soup For The Working Mom’s Soul: Kimberly Kimmel

Minggu, 31 Maret 2013

Long Weekend


Jakarta, 28 Maret 2013
Hari ini hari kamis..
besok jumat..
besoknya sabtu..
besoknya lagi Ahad..
woww..
Long Weekend..
Katanya..
Kata siapa?
Kata Kalender..hehe
Alhamdulillah…
Long weekend yang dinanti-nanti banyak orang.. termasuk saya..
bagaimana tidak? Setelah rutinitas kerja dalam sepekan, akhirnya bisa berkesempatan berlibur bersama orang-orang terkasih..meski hanya 3 hari..
Waktu itu mahal!
Kawan-kawan saya yang rata-rata dari luar Jakarta, jauh-jauh hari sudah berburu tiket pulang ke kampungnya. Entah itu pesawat, travel, atau kereta.
Jadi, menjelang long weekend.. jangan harap masih kebagian tiket kereta pas hari H..
sudah ludesss… dan tentunya kalaupun masih ada.. menjelang hari H, harganya biasanya jadi beda.. lebih mahaal
Beruntung saya tidak perlu pulang dengan tiket-tiketan segala.. masih ada kendaraan seperti bis yang stand by setiap jam nya di terminal-terminal besar..
kendaraan menuju tempat orang-orang terkasih saya cuma 3-4 jam dari jakarta..
Bogor dan Bandung.
Ok,
Jadi.. long weekend ini rencana saya sebagai berikut:
-Kamis sore pulang kantor –> naek commuter line ke Bogor (rumah ortu) 
-Jumat siang–> ketemu sahabat yang akan menikah sabtunya (ke undangan lebih awal) sekalian nemenin treatment ke salon.. (sekalian juga ahhh..hihi)
-jumat sore –> ke bandung.. ke tempat hubby dan anakku meru cintaahhh
-jumat malam-Ahad –> di Bandung..
-Dilematis –> ke Jakarta. back to the battle.. (antara ahad sore atau senin jam 4 subuh) hehe..

Begitulah..
intinya saya senaaanngg
semoga bermanfaat waktu-waktu yang berharga ini..
aamiin yaa Rabb..
Udah dulu ah..
ImageImageImage


Senin, 04 Februari 2013

Langkah Awal Berwirausaha


  1. Totalitas hidup ibadah, jadwal harian melebur, mengikuti jadwalnya Allah
  2. Tidur tidak larut malam, kecuali keadaan darurat sepeti ada musibah, menolong bencana dsb.
  3. Bangun sebelum subuh secara mandiri, (tidak dibangunkan orang lain)  sehingga bisa Qiyamullail walau sedikit.
  4. Dilarang, tidak boleh, aib/pamali, pantang tidur setelah subuh
  5. Mengerjakan pekerjaan rumah antara subuh s/d jam mulai keluar rumah
  6. Merapihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, merapihkan barang sendiri.
  7. Tidak terlambat masuk kerja, walaupun kantornya punya sendiri serta serius dalam bekerja.
  8. Menikmati pekerjaan, karena ibadah, dakwah, jihad, hobi, maisyah, ta’awun, amal jariyah,
  9. Shalat, dzikir, du’a adalah jadwal utama, sementara aktifitas lain harus menyesuaikan waktunya.
  10. Hiburan bukan candu, tapi selingan jadi sejenak saja, pandai mengendalikan sarana hidup.
  11. Harus  ada waktu perhatian, untuk diri, keluarga, tetangga, masjidnya, kampung dst.
  12. Mengurus dokumen pribadi sendiri, seperti KTP, SIM, STNK, Listrik, PBB, administrasi lainnya.
  13. Menjaga kesehatan dan stamina tubuh, supaya tidak mudah sakit.
  14. Terus berlatih seni management waktu. Jangan sampai satu detik hilang tanpa perencanaan.
  15. Sensitif dan sangat mengenal siapa si pencuri waktu.
  16. Menghidari tongkrongan, kongkow-kongkow, ketawa ketiwi, nyeletuk-nyletuk, yang hanya menghabiskan waktu.
  17. Malu melakukan aktifitas murahan yang tidak menambah iman, ilmu dan income.
  18. Gengsi melakukan tidakan tercela, karena harga diri, apalagi  perbuatan dosa.
  19. Menyeleksi teman jangan sampai mengangkat si pencuri waktu sebagai teman.
  20. Memilih lingkungan dan sarana hidup yang bisa dikendalikan bukan sebaliknya.
  21. Banyak silaturrahiim, untuk memperbanyak teman dan koneksi serta jaringan.
  22. Siap dan mudah bekerja sama dengan siapapun serta pandai bergaul..
  23. Konsentrasi penuh ditempat banyak orang berkumpul/bertemu karena disitulah banyak berdar uang.
  24. Sering  mencari kerumunan, kumpulnya banyak orang atau event-even yang mengundang banyak orang.
  25. Sering berjalan dipasar dan mengamati dengan serius prilaku orang dipasar.
  26. Mengasah senstifitas untuk melihat berbagai macam peluang dan kesempatan.
  27. Tidak malu bertanya atau meminta saran kepada siapapun
  28. Tidak takut dikeritik, malah merindukannya, agar terus melakukan perubahan tanpa henti.
  29. Tidak suka mencari kambing hitam, selalu lari kedalam dirinya, karena dia percaya diri, segala sesuatunya datang dari keputusan sendiri. Maka pantang menyalahkan orang lain.
  30. Kecepatan dalam mengevaluasi, senang dengan umpan balik, tindakan perbaikan ketika terjadi kesalahan.
  31. Sangat sengang dan selalau berupaya untuk meningkatkan kapasitas dirinya, dengan banyak pelatihan, belajar, bertanya, magang serta terus dan terus mencoba…
  32. Ucapan ”Bismillah” bukan basa basi, berarti sekarang juga mulai tidak ada kata tunda.
  33. Mengambil inisiatif, tidak ikut ikutan,  menunggu si fulan, menunggu disuruh, diarahkan, atau ditegur.
  34. Siap tempur dengan musuh bebuyutan, kangker ganas, yaitu kata  “tunda”
  35. Bekerja keras, banting tulang, peras keringat, jungkir ballik, ulet, tekun, sabar, pantang mengeluh dan tidak lebay.
  36. Melihat setiap ada masalah pasti ada peluang, setiap ada kesulitan pasti akan muncul kemudahan.
  37. Berupaya mengatasi dan menyelesaikan kesulitan dan persoalan-persoalan nya sendiri.
  38. Memperbaiki kerusakan kecil di rumahnya sendiri, seperti atap bocor, keran rusak, lampu mati, saklar rusak, dan sebagainya
  39. Tidak ada waktu yang lost control walau satu detik, semua sudah direncanakan. Sekecil apapun harus bekerja, tidak boleh berhenti, kecuali memang waktu istirahat dan kebutuhan darurat.
  40. Bukan entrepreuneur namanyaa jika dalam hari hari masih ada kata “ Bingung apa yang harus dikerjakan” atau memang tidak teragenda sebelumnya jadi bingung. Nah loh..?
  41. wirausahawan berarti juga seorang  “visioner” ciri yang sangat jelas adalah “Kewajiban lebih banyak dari pada waktu yang tersedia”. Sangat aneh jika masih banyak hiburannya.
  42. Hidup berencana, berarti punya buku agenda harian bertanggal.
  43. Peka dan peduli terhadap keadaan diri  dan lingkungan sekitar’
  44. Cinta kebersihan, keindahan diri, rumah, lingkungan dan mengajak orang lain..
  45. Penghematan dalam segala hal  termasuk listrik, air, gas dan sebagainyal.
  46. Menyiapkan segala resiko yang akan dihadapi,  terpahit sekalipun.
  47. Tujuan dan proses sama pentingnya sehingga tidak menyepelekan keduanya.
  48. Tawakkal penuh, pasrah total, du’a senjata utama, Berbaik sangka keapada Allah.
  49. Sehingga tidak ada kamus, nyerah, kapok, bosen, bt, berhenti, letih dan sebagainya.
  50. Modal Utama dalam bisnis bukan “uang”  tetapi keyakinan, kreatifitas, kerja keras, koneksi dan jaringan..
  51. Memulai dari modal seadanya, akal fikiran, panca indra, keterampilan, saran dan fasilitas disekitar kita, SDA dan SDM disekitar kita, jaringan yang sudah kita miliki.

Itulah langkah-langkah awal (dasar) yang harus dikerjakan dan dipenuhi jika mereka ingin menjadi seorang wirausahawan muslim sejati. Kalau mau lebih cepat dengan langkah berikutnya boleh saja asal langkah-langkah awal (dasar) ini tidak ditinggalkan. Penulis yakin jika langkah-langkah awal ini semuanya dilaksanakan, insyaAllah kemungkinan besar akan berhasil menjadi wirausahawan muslim sejati.

Jangan berbasa basi dengan ucapan “bismillaah”, jika Anda mengucapkan kalimat basmalah, berarti tidak ada kata “tunda” lagi. Selamat mencoba, semoga Anda menjadi orang sukses dunia akhirat. Amin

sumber: firmadani.com

Untuk Dedek & Yaya..

Jakarta, 5 feb 2013

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Tak terasa sudah hampir 4 bulan jari-jari ini tidak menari-nari di blog ini lagi.
Subhanallah.. alhamdulillah..

Berbagai rasa tercampur aduk mengiringi perjalanan hidup yang terus melaju.
Saat ini, sudah resmi aku diberi kesempatan untuk merasakan kelahiran ketiga bagi seorang wanita..
Menjadi seorang ibu..

Istilah kelahiran ketiga ini kudapat dari seorang sahabat.
Katanya, seorang wanita itu dilahirkan sebanyak 3x selama hidupnya..
Kelahiran pertama, adalah ketika ia dilahirkan oleh ibunya..
Kelahiran kedua, adalah ketika ia menikah..
Dan kelahiran ketiga adalah ketika ia melahirkan buah hatinya..


Menjadi seorang Ibu sekaligus pekerja..
Lakon yang harus kujalani saat ini..
Membuat perasaan berat dan rindu meletup-letup tiap aku tidak sedang menatap wajah mungilnya..
Ditambah domisiliku yang kini berbeda, terpisah dari sang pendamping jiwa..

Pergi subuh.. sampai rumah ba'da isya..
Setiap hari..
Melaju bersama kereta.. dari Bogor ke Jakarta dan sebaliknya.
Pengorbanan.. demi memenuhi harapan orang tua terkasih..

Sementara jauzi..
Harus rela berjumpa dengan kami sepekan sekali..
Melaju dari Bandung ke Bogor..tempat permata hati..
Pengorbanan.. demi menatap senyuman syurgawi..

Ya, memang sekilas terasa berat..
Tapi kami tahu, ini hanya sementara..
Sembari kami menabung kekuatan..
Kekuatan dan mental untuk tapak kami selanjutnya..
Untuk menjemput impian kami yang sebenarnya...
Karena kami tidak tahu..
Apa yang Allah rencanakan untuk kami..
yang jelas.. Allah telah menyiapakan kejutan terbaiknya..
Untuk setiap dari kami yang sabar dan positif melangkah dalam menyambut keputusannya.

Bersabar..
Ikhlas..
Yakin..
dan tersenyumlah..

Karena setidaknya..
Kami masih bisa bergenggaman..
Bersama dalam lingkar cinta suci..
Bersama menjemput ridho Illahi Robbi..

*untuk Dedek dan Yaya.. I LOVE U... :')